Filosofi Paku harus menjadi pegangan santri

Santri adalah seorang yang tangguh. Dia harus menghadapi pahitnya kehidupan sendiridan hanya dengan teman lah mereka menjalani hidup. Menjadi seorang santri banyak kesulitan-kesulitan yang harus dihadapinya, namun banyak manfaat yang didapatkannya. Keseharian santri dengan teman-temanya mengajarkanya untuk menghadapi kehidupan yang akan datang dan melatih bersosialisasi dengan masyarakat luas.

Seorang santri harus bisa memberikan manfaat untuk orang lain dengan kapasitas dan kemampuannya masing-masing. Dianalogikan santri harus bisa seperti sebuah paku. Mengapa demikian?. Dicontohkan dalam pembuatan rumah bagian terkecil material adalah paku namun sangat penting bagi pembangunan tersebut. Demikian dengan santri ,santri adalah bagian terkecil dari masyarakat. Namun santrilah yang akan merubah peradaban, merubah masyarakan menjadi lebih baik dan santrilah yang akan menjadi tokoh masyarakat.

Santri harus bisa menjadi seperti paku, walaupun dipukul terus tapi sudah jelas bermanfaat. Ketika membuat rumah, yang bisa menyatukan antara reng, usuk dan papan lainnya. Kalupun  rumah sudah jadi berdiri tegak, tidak ada yang memuji paku karena memang pakunya tidak terlihat. Kalaupun paku terlihat menonjol paku itu pastilah akan dipukul lagi sampai tak terlihat. Santri itu seperti paku, walaupun disepelekan tapi jelas bermanfaat, sebab yang bisa berbaur dan peduli bersama masyarakat luas. Dan biasanya santri tidak ingin dipuji manusia sebab santri selalu mencari ridlo  Allah SWT. Santri juga biasanya tidak ingin terlihat tampil di depan. Yang terpenting tentram dan damai. sebab itulah sifat asli Santri.

Jangan berkecil hati menjadi seorang santri, seharusnya berbanggalah menjadi seorang santri karena menjadi santri bukanlah hal yang norak malah sebaliknya. Santri sangat bermanfaat bagi masyarakat bahkan bagi bangsa layaknya paku yang sangat bermanfaat bagi pembangunan. Menjadi santrilah dan rubahlah peradaban dibumi pertiwi ini.

Ardatul Ulya  ( Xa Desain Grafika )

You may also like...

3 Responses

  1. Ardiyan says:

    Semoga kedepan menjadi penulis yang hebat

  2. Jannah says:

    membuat bangga dengan almamater

  3. Harry says:

    Dulu kita, sering nulis ngak ya mas ardiyan,, mbak yekti???

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.